Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2022

Tantangan untuk Menulis

Ternyata menulis itu tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Apalagi bagi seorang Ibu bekerja. Di samping harus mengurus anak, kita memiliki pekerjaan yang tidak sedikit. Namun di tengah kesibukan yang dimiliki. Minimal kita bisa meluangkan bahkan memaksakan untuk menulis. 

Mengapa demikian? Ya, harus. Karena dengan memaksakan kita mau tidak mau akan menghasilkan. Dengan menghasilkan kita punya karya. Meskipun awalnya kurang baik. Lama kelamaan dengan sambil terus belajar, kita akan semakin berkembang. Sampai akhirnya mendapatkan hasil yang terbaik. 

Mungkin pada awalnya kita hanya bisa bermimpi. Tapi percayalah mimpi itu, pasti akan terwujud. Walau terkadang Allah berikan tidak langsung dan sesuai. Namun pasti yang diberikan adalah yang terbaik untuk kita versi Allah. 

Bagaimana cara kita mendapatkan ide untuk menulis? Mungkin ini bisa jadi alternatif, dari pengalaman saya pribadi. 
1. Siapkan buku kecil/notebook
Dalam buku kecil ini kalian bisa menuliskan apa yang sedang, telah, bahkan akan dilakukan. Kalau kalian lebih sering menggunakan gawai (handphone), silakan bisa menggunakan aplikasi catatan/note juga. 
2. Setiap dapat ide/inspirasi segera tuliskan
Terkadang mencari ide itu sulit, sebenarnya mudah. Amati saja orang lain dan sekitar, pasti muncul suatu informasi. Namun kadang mengabaikan itu dan tidak langsung dituliskan. Sehingga ide itu kadang hilang dan sulit muncul kembali. 
3. Banyak berdiskusi dengan orang sekitar
Apabila kita mempunyai permasalahan, tidak ada salahnya kita berbagi dengan orang lain. Namun bisa juga sebaliknya kita menjadi pendengar bagi mereka yang membutuhkan  teman curhat. 

"Paksakan, paksakan, paksakan Menulis"

"Semangat, Semangat, Semangat Menulis"

"Lanjutkan, lanjutkan, lanjutkan Menulis"

"Kamu pasti Bisa, Bisa, Bisa"

Diri ini hanyalah insan yang lemah
Masih banyak berbuat salah
Namun diri tak mau kalah
Dengan dunia antah berantah

Cimareme, penghujung Agustus 2022

Selasa, 30 Agustus 2022

Jejak Diri dalam Belajar Menulis @27 bagian ke-3

Queen of Diction yang Memukau

(Sumber Foto : Blog Maydearly)

Pertemuan ketiga dalam kelas Belajar Menulis semakin menarik. Narasumber cantik bernama asli Maesaroh, yang akrab dipanggil Maydearly. Beliau diberi gelar Queen of Diction, karena ungkapan indah ditulisnya dalam puisi. 
Didampingi sang moderator, yang tidak lain adalah tetangganya bernama Mutmainah, beliau pun membuka kelas dengan kata-kata yang manis. 

Ulasan kelas kali ini membahas tentang Cara Membuat Resume yang Baik. Sebelum membuat resume, tentunya kita harus mengetahui apa maknanya. Resume adalah sebuah tulisan berisi informasi penting yang disampaikan kepada pembacanya. Narasumber mengatakan bahwa seseorang harus memiliki mental yang kuat, sebelum memahami cara membuat sebuah resume. Apalagi yang berminat menulis di blog sebagai media. Dengan memiliki psikologis yang baik, tentunya siap menjadi seorang blogger. 

Maydearly dalam salindianya memaparkan 4 poin penting yang harus dimiliki seorang blogger pemula sebagai berikut. 
1. Tanamkan Sikap Percaya Diri
Apabila kita merasa tulisan jelek, percayalah mungkin bagi orang lain terasa luar biasa. Terutama bagi mereka yang belum pernah menulis. Jadi tidak perlu malu. Percaya dirilah kamu pasti bisa. 
2. Siap dengan Segala Kritikan
Walaupun budaya kritikan lebih sedikit dari buda memuji. Seharusnya kita siap untuk menerima kritikan dalam upaya peningkatan kualitas tulisan. 
3. Jadilah Penulis yang Informatif dan Edukatif
Tulisan yang bersifat informatif akan sangat dicari oleh para pembacanya. Maka dari itu tidak sulit menjadikan blog sebagai media untuk memberi/menerima informasi. 
4. Bangunlah tulisan di berbagai blog
Mental penulis akan mudah beradaptasi dan memberi perubahan, apabila terbiasa menulis di berbagai blog, misalnya di Kompasiana.

Ternyata mengungkapkan perasaan lebih mudah dibandingkan menyatakan sebuah tulisan supaya bermakna di hati pembacanya. Narasumber pun memberikan obat segala kesedihan dalam menulis. 
Pertama, terus menanamkan rasa percaya diri. 
Kedua, menulis dengan gaya sendiri. 
Ketiga, tidak boleh melakukan salin/tempel dalam menulis. 

Sebuah resume yang baik biasanya didukung relevasi materi dari luar. Selain itu bisa juga disebut buah pemikiran penulis sendiri. 
Langkah-langkah membuat resume yang baik sebagai berikut. 
1. Mengamati
2  Memodifikasi
3. Menghindari copy paste
4. Memparafrase bahasa narasumber
5. Memberi kesimpulan
6. Menulis with own version

Apabila kita mulai mengikuti langkah-langkah di atas, dimulai mengamati resume orang lain, sampai menulis versi sendiri. Sedikit demi sedikit resume yang kita buat akan lebih baik. Pastinya tetap percaya diri untuk terus mencoba untuk menulis. 

"Perjalanan ini baru saja dimulai. Jejak Diri pun belum terlalu banyak. Namun, semoga ini menjadi saksi di mana diri pernah berjuang untuk memperbaiki diri. Menjadi Pribadi yang Hebat dan Luar Biasa di Masa Depan." (Gina Dwi Septiani)


Minggu, 28 Agustus 2022

Jejak Diri dalam Belajar Menulis @27 bagian ke-2

Pesona Sang Ratu Antologi
*Gambar diambil dari Salindia/PPT Bu Kanjeng*

Perjalanan kelas menulis pun berlanjut. Saya dipertemukan dengan seorang moderator dan narasumber yang hebat. Seperti terhipnotis, saya ikuti kelas tanpa terlewat. 
Sang moderator, Pak Dail Ma'ruf membuka kelas dengan mengajak semua peserta berdoa. Beliau pun membagikan pengalamannya mengikuti kelas belajar menulis yang telah beliau ikuti di gelombang ke-20. Beliau bisa menghasilkan beberapa buku solo dan antologi. Kata beliau ternyata benar bahwa "MAN JADDA WA JADDA", Siapapun yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil, apapun itu. Suatu kalimat yang memotivasi saya untuk meneruskan proses belajar ini dan semakin penasaran dengan materi dari narasumber. 

Narasumber kelas menulis ini, bernama asli Sri Sugiastuti. Beliau biasa dipanggil Bu Kanjeng dari Solo. Ternyata beliau ini yang waktu mengajak peserta bersyukur di awal kelas Om Jay di hari pertama. Tidak menyangka ternyata beliau akan menjadi narasumber juga. 

Beliau mengawali kelas dengan mengajak para peserta untuk mengunjungi tautan blog pribadinya. Sebuah pemanasan sebelum kita mulai kelas yang hebat ini. Kelas ini memang hebat, dibuka dengan sebuah contoh tulisan dalam blog berisi pengalaman beliau ketika healing. Setelah membacanya saya jadi memikirkan bahwa suatu hari akan melakukan hal yang sama. Jika saya melakukan suatu perjalanan seperti beliau, bisa dijadikan bahan untuk menulis. Padahal materi belum diberikan, tapi sungguh dasar ilmunya sudah tersampaikan. Intinya berani memulai, apapun yang kita kerjakan dan lakukan, bisa kita jadikan sebuah tulisan. Semakin semangat mengikuti kelas. 

Setelah selesai mengunjungi blog narasumber, kami diberikan sebuah Salindia/PPT menarik tentang "Writing is My Passion". 
Dalam kegiatan Menulis tentunya di samping memberikan tawaran yang menjanjikan, karena menjadi salah satu pekerjaan yang dihormati. Ada beberapa kendala dan hambatan yang dihadapi. Berikut saya kutip dari Salindia/PPT narasumber, sebagai berikut. 
1. Merasa Tidak Bakat Menulis
Benar sekali, tidak jarang karena merasa dirinya tidak mempunyai bakat untuk menulis. Akhirnya memilih untuk mundur tidak jadi menulis. Begitu pun awal perjalanan menulis saya. Sempat tidak merasa punya bakat. Namun atas dasar coba-coba, saya pun mulai memaksakan untuk menulis. Yuk coba, kalian juga pasti bisa. 
2. Tidak Memiliki Waktu
Dalam hal ini, bila dikaitkan dengan sedikit pengalaman yang saya alami, sebenarnya bukan tidak memiliki waktu. Akan tetapi malas untuk memulai saja. Kalau berusaha dipaksakan, kita bisa mulai menulis. 
3. Tidak Memiliki Ide
Adanya ide memang seringkali dijadikan alasan untuk tidak menulis. Sulitnya mendapatkan ide dan takut hasilnya jelek, jadi salah satu penghambat tulisan tidak selesai. Diri ini pun sering merasa tidak memiliki ide. Namun akhirnya mendapatkan sedikit pencerahan, setelah mengikuti pelatihan belajar menulis gelombang 27 ini. 
4.Tidak Mau Dikritik
Penulis yang tidak mau dikritik, tentunya akan menjadi salah satu hambatan. Sebuah tulisan itu membutuhkan pendapat dari pembacanya. Seorang penulis harus mau dikritik sehingga tulisannya bisa berkembang. Bu Kanjeng pun mengatakan solusinya yaitu "Jangan baper dan minder" Mungkin itu dimaksudkan ketika kita mendapatkan kritikan dari orang lain. 
5. Tidak Suka Menulis
Rasa tidak suka akan menulis menjadi hambatan utama. Karena mana mungkin bisa mulai menulis, sedangkan kegiatan itu tidak disukai. 
Bu Kanjeng pun menyampaikan dari awal, bahwa dalam menulis ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Solusi atas hambatan dalam menulis sebagai berikut. 
Pertama, ubah dulu mindset. 
Kedua, siapkan waktu untuk menulis. 
Ketiga, jangan baper atau minder. 
Keempat, perbanyak membaca. 
Kelima, bangun komunitas literasi. 

Pesan dari Bu Kanjeng, jangan pernah takut menulis. Apalagi berpikir negatif bahwa menulis itu bakat. Itu salah besar. Percayalah bahwa setiap orang yang lahir ke dunia adalah pemenang. Mereka memiliki potensi dari Allah yang siap dikembangkan. Jangan pernah merasa tidak percaya diri. 

Sebagai penutup, beliau pun memberikan kalimat bermakna yang sangat bermakna. 
"Menulis itu Harus Sabar."
Tulislah semampu kita terlebih dahulu. Jangan berpikir harus sempurna, dan jangan terlalu idealis. 


Jumat, 26 Agustus 2022

Jejak Diri dalam Belajar Menulis @27 bagian ke-1

Jejak diri bisa menjadi awal untuk memulai perasaan terpendam yang selama ini tertahankan. 
Sebelum saya mengikuti kelas Belajar Menulis gelombang 27 ini. Saya pernah beberapa kali mengikuti pelatihan menulis. Namun tidak pernah ikut lagi, dalam beberapa tahun ke belakang diberikan kesibukan. Rasa rindu untuk menulis begitu menggebu. Sampai akhirnya Allah takdirkan berada di kelas ini. 

Awalnya ada keraguan untuk memulai kembali. Banyak ketakutan akan gagal di kemudian hari. Impian membuat buku sendiri/solo yang belum kunjung terwujud. Rasa minder pun menyelimuti diri ini. Melihat banyaknya penulis juga peserta yang begitu antusias membuat saya sempat berpikir untuk tidak lanjut. 

Sampai akhirnya dipertemukanlah saya dalam dunia maya bersama sang narasumber hebat yang akrab dipanggil Om Jay. Beliau mengawali pelatihan ini dengan tema "Menulis di Kompasiana". Terdengar tak asing, tapi beliau mengemas materinya dengan menarik, sehingga saya tertarik mengikuti jejak beliau. Setelah beliau memberi pelatihan, saya mengirimkan resume ke grup. Tidak menyangka, kalau ini mendapatkan reward dari sang pemateri. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan mendapatkannya. Alhamdulillah, salah satunya adalah saya. 
Tidak lama dari saya mengirimkan alamat ke beliau, buku kiriman dari beliau pun sampai kurang lebih setengah hari. Waktu yang begitu cepat padahal kirimnya dari Bekasi, cukup jauh ke daerah saya. Mau tahu bukunya? 
Masya Allah, Buku Ajar Informatika. Buku ini mengingatkan cita-cita masa lalu yang ingin menjadi seorang guru bahkan ahli di bidang informatika. Walau belum dibuka, Insya Allah buku ini akan sangat bermanfaat. Terima kasih Om Jay. 

Kilas balik materi yang beliau sampaikan pada hari Senin, 22 Agustus 2022 tepat pukul 7 malam. Beliau menyampaikan materi tentang "Menulis di Kompasiana". Moderator cantik, Widya Setianingsih pun membuka kelas dengan salam manis diiringi sebuah pantun. Sepenggal rasa syukur pun terucap dari Bu Sri Sugiastuti, karena bisa terlebih dahulu sudah ada di kelas belajar menulis. 

Kelas pun dimulai, dengan terlebih dahulu memperkenalkan Om Jay sebagai narasumber. Beliau terkenal dengan jargonnya "Menulislah tiap harihari dan buktikan apa yang terjadi." Bapak Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. adalah nama asli berikut gelar beliau. 

Sang moderator membuka kelas dengan memberikan sebuah puisi akronim dari nama lengkap Om Jay. Wah, bagus juga ya kalau bisa membuat puisi akronim nama sendiri. Mungkin nanti bisa diadaptasi. 
*Gambar diambil dari tangkapan layar grup*

Akhirnya kelas pun dimulai. Om Jay memulai kelasnya dengan mengajak para peserta mengikuti tautan youtube yang beliau miliki. 
Bersamaan dengan kelas ini, beliau ternyata sedang menyelesaikan sebuah tulisan di  https://kompasiana.com/wijayalabs. Tulisan tersebut berjudul "Ferdy Sambo, Karomi, dan Seleksi Calon Guru Penggerak". Tapi kata beliau tulisannya masih diedit. Om Jay ini pintar sekali membuat penasaran. 
Om Jay mengatakan kalau sebuah tulisan itu tidak bisa langsung sekali jadi, kita perlu menata kalimat demi kalimat, sehingga mudah untuk dipahami.

Bagi yang penasaran dengan tulisannya Om Jay di Kompasiana, bisa langsung ikuti saja tautan ini http://kompasiana.com/wijayalabs. Pada tanggal cantik ini 22 Agustus 2022, beliau sudah menuliskan beberapa kisah nyata yang sedang hangat dibicarakan.